Menu

Mode Gelap
Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta

Aceh

Tgk. Adek: Jangan Jadi Zombi Anggaran, PAD Aceh Utara Tak Bisa Diselamatkan dengan Gaya Hidup Konsumtif

badge-check


Tgk. Adek: Jangan Jadi Zombi Anggaran, PAD Aceh Utara Tak Bisa Diselamatkan dengan Gaya Hidup Konsumtif Perbesar

Lhoksukon, Harianpaparazzi.com — Sorotan tajam kembali tertuju pada lemahnya kinerja pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Utara. Anggota Komisi III DPRK Aceh Utara, Mawardi M, S.E. Yang akrab disapa Tgk. Adek melontarkan kritik keras terhadap instansi pemerintah daerah yang dinilainya lebih fokus pada belanja anggaran ketimbang mendorong peningkatan pendapatan daerah.

Dalam rapat Badan Legislasi DPRK, Rabu (25/6), Tgk. Adek menyatakan bahwa sebagian besar instansi terjebak dalam rutinitas serapan anggaran tanpa produktivitas nyata.

“Jangan jadi zombi anggaran. Mereka jalan secara administratif, menyerap APBK tiap tahun, tapi tanpa nyawa produktivitas. Seperti zombi bergerak tapi tidak hidup,” ujarnya.

Ia menyebut birokrasi konsumtif sebagai akar masalah stagnasi PAD. Menurutnya, banyak lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan serta fasilitas pelayanan publik namun tidak dikelola secara optimal untuk menghasilkan pendapatan.

“Kita punya banyak sektor yang bisa diandalkan untuk PAD. Tapi belum ada gerakan terstruktur. Yang ada justru mental ‘menunggu transfer pusat’. Ini bahaya bagi kemandirian fiskal kita,” tegasnya.

Politikus dari Partai Aceh itu juga menyoroti sistem pemungutan pajak dan retribusi daerah yang dinilainya belum profesional. Meskipun alat pembayaran digital seperti QRIS telah dipasang di sejumlah lokasi, namun implementasinya dinilai belum berjalan maksimal.

“QRIS sudah ada, tapi belum jalan. Padahal digitalisasi itu kunci transparansi. Sistem kita ini terlalu mudah dimanipulasi,” katanya.

Sebagai langkah konkret, Komisi III DPRK akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap unit-unit pelayanan pemerintah yang berpotensi menyumbang PAD. Tgk. Adek bahkan menyarankan rasionalisasi hingga pembubaran terhadap lembaga yang tidak produktif.

“Kalau tidak bisa menyumbang PAD, lebih baik dibubarkan. Jangan terus kita pelihara struktur hanya demi formalitas. Pemerintahan harus memberi nilai tambah, bukan jadi beban,” ujarnya.

Mengakhiri pernyataannya, Tgk. Adek mengajak seluruh jajaran pemerintahan Aceh Utara untuk meninggalkan budaya birokrasi yang pasif dan konsumtif. Ia menekankan pentingnya membangun paradigma kerja yang berorientasi pada kemandirian fiskal dan optimalisasi potensi daerah.

“Jangan cuma jadi tukang belanja APBK. Gali potensi, benahi sistem, dan bangun semangat kerja. Aceh Utara harus bangkit dari ketergantungan,” pungkasnya.( Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Oknum Kepala SD Negeri 4 Baktiya Aceh Utara Diduga Jual Aset Renovasi, Guru Sertifikasi Diperas

2 Maret 2026 - 00:21 WIB

Wamen PAN-RB Datangi Aceh Tamiang, Menyasar PNS, P3K dan CPNS

24 Februari 2026 - 18:50 WIB

Rapim Polda Aceh 2026, Kapolda Aceh Tegaskan Komitmen Implementasi Arahan Presiden dan Kapolri

24 Februari 2026 - 18:48 WIB

Gunakan Surat Palsu Berkop DPRA, Sindikat Penipuan Proyek Rumah Duafa Rugikan Kontraktor Lebih dari Rp200 Juta —Yahdi Hasan Bantah Terlibat

24 Februari 2026 - 11:49 WIB

Bupati dan Plt Sekda Aceh Utara Bersilaturahmi dengan Kasubdit Tipikor Polda Aceh

23 Februari 2026 - 13:55 WIB

Trending di Aceh