Aceh, Harianpaparazzi.com — Jerit pengungsi banjir di pedalaman Aceh belum sepenuhnya terjawab. Saat ribuan warga masih bertahan di tenda-tenda darurat dan daerah pegunungan terisolasi akibat jalan putus dan longsor, bantuan kembali tiba—namun pertanyaan besarnya bukan sekadar apa yang datang, melainkan bagaimana bantuan itu benar-benar sampai.
Siang ini, Minggu (28/12), bantuan kemanusiaan untuk korban bencana hidrometeorologi tiba di Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara. Bantuan tersebut berasal dari PT Kencana Hijau Bina Lestari, masih tersimpan dalam peti kemas, berisi kebutuhan pokok bagi pengungsi banjir yang akan disalurkan ke Kabupaten Bener Meriah dan Takengon, dua wilayah yang hingga kini masih sulit dijangkau.
Bantuan diserahkan oleh Mayjen (Purn) TNI Sunarko, mantan Pangdam Iskandar Muda, kepada Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBA, Abdul Aziz, S,H, M.Si. untuk selanjutnya didistribusikan ke daerah terdampak. Namun di balik seremoni penyerahan, Sunarko menyampaikan pesan keras, bantuan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus menembus isolasi geografis dan kebutuhan riil warga.
Dalam perjalanan dari Banda Aceh ke Lhokseumawe, saya masih melihat banyak warga tinggal di tenda pengungsian, seperti di Pidie Jaya. Ini menunjukkan bahwa kepedulian belum boleh berhenti,” kata Sunarko kepada wartawan. Ia bahkan menilai, dampak banjir kali ini melampaui trauma tsunami, terutama di wilayah seperti Aceh Tamiang, di mana korban bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga sumber penghidupan. Perkebunan sawit, urat nadi ekonomi warga, ikut musnah ditelan banjir. “Yang selamat pun kehilangan segalanya. Setelah bencana berhenti, kehidupan tidak otomatis pulih. Mereka masih butuh rumah, lahan, alat kerja, dan waktu panjang untuk bangkit,” ujarnya.
Bantuan Ada, Tapi Jalan Masih Buntu
Untuk wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Sunarko menegaskan bahwa distribusi bantuan tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Jalur darat masih sangat terbatas. Dari Gunung Salak, Aceh Utara, logistik hanya bisa menembus menggunakan sepeda motor atau kendaraan off-road dalam jumlah kecil. Akibatnya, helikopter menjadi tumpuan utama distribusi, yang tentu membutuhkan biaya besar dan perencanaan matang.
“Kalau jalur darat tidak segera diperbaiki, distribusi akan terus tersendat. Helikopter memang sudah dikerahkan, termasuk Hercules dan pesawat kecil, tapi bagaimana dengan desa-desa yang masih terisolir?” kata Sunarko.
Ia mendesak BNPB dan BPBA untuk segera memperbaiki infrastruktur jalan yang terputus dengan mengerahkan sebanyak mungkin alat berat. Bahkan, ia menyarankan pemerintah pusat dan daerah menggandeng perusahaan-perusahaan di Aceh untuk menyumbang alat berat demi membuka akses logistik darat yang telah terputus hampir satu bulan. Sunarko juga mempertanyakan efektivitas pengerahan 20 unit helikopter yang disebut-sebut telah disiagakan untuk distribusi bantuan ke Bener Meriah dan Takengon. “Apakah pengerahan itu benar-benar berjalan sesuai perintah Presiden? Ini perlu dijelaskan secara terbuka,” tegasnya.
Hitung Kebutuhan, Bukan Sekadar Kirim Barang
Menurut Sunarko, menghitung bantuan tidak bisa dilakukan secara seragam. Pemerintah daerah—mulai dari bupati, camat hingga kepala desa, harus menjadi penentu utama dalam menghitung kebutuhan riil, apakah bantuan dihitung per hari, per minggu, atau per bulan.
Tak hanya pangan, ia menekankan pentingnya pendataan kerusakan aset warga: rumah, kebun, peralatan nelayan, hingga kebutuhan material untuk pembersihan lumpur yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Isi Bantuan, Adapun bantuan yang disalurkan PT Kencana Hijau Bina Lestari meliputi: Beras 5 ton, Mi instan 500 dus, Minyak goreng 80 dus, Gula pasir 2 dus, Sarden kaleng 16 dus, Rendang ayam 6 dus, Rendang betutu 14 dus, Telur puyuh, Pembalut wanita 5 dus, Popok balita. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban pengungsi, meski di lapangan warga masih berharap distribusi lebih cepat dan merata.
Di Antara Harapan dan Kenyataan
Banjir telah memutus jalan, tetapi jangan sampai juga memutus empati dan tanggung jawab. Bagi warga Bener Meriah dan Takengon, bantuan bukan soal banyaknya dus yang datang, melainkan seberapa cepat dan seberapa adil bantuan itu sampai ke dapur mereka.
Saat helikopter masih berputar di langit, warga di tenda-tenda pengungsian masih menunggu satu hal sederhana: akses yang terbuka, agar hidup bisa berjalan kembali. (Firdaus)







