Menu

Mode Gelap
Plt Kepala DPPKB Aceh Tenggara Periksa Aset Kendaraan Dinas dan Fasilitas Kantor Oknum Pengembang Villa Buket Rata Serobot Aset Desa, Jalan Umum Dijadikan Jaminan Bank Direktur PNL Raih Gelar Doktor Ilmu Teknik USK, Angkat Inovasi Fly Ash untuk Pembangunan Berkelanjutan Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara

Opini

Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin

badge-check


					Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin Perbesar

Oleh: Trinugroho

Ketika kritik diposisikan sebagai ancaman dan wartawan diperlakukan layaknya lawan, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan sekadar komunikasi publik. Yang ambruk perlahan adalah fondasi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Dalam negara demokrasi, kritik bukanlah bentuk pembangkangan. Ia adalah mekanisme koreksi. Wartawan pun bukan oposisi kekuasaan, melainkan jembatan antara fakta dan publik. Namun ketika kritik disambut dengan kecurigaan, pembungkaman, atau pelabelan negatif, negara tengah mengirim sinyal berbahaya: kekuasaan mulai alergi terhadap kebenaran.

Komunikasi publik yang sehat menuntut keberanian untuk mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan. Pemerintah yang kuat justru lahir dari kemampuannya mengelola kritik, bukan meniadakannya. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun dari narasi sepihak, melainkan dari transparansi dan akuntabilitas.

Sejarah mencatat, setiap rezim yang memusuhi pers selalu memulai keruntuhannya dari titik yang sama: menutup telinga, mengeras dalam kekuasaan, dan menjauh dari rakyat. Ketika wartawan diperlakukan sebagai ancaman, masyarakat pun wajar bertanya—apa yang sebenarnya sedang ditutupi?

Negara tidak runtuh karena kritik. Negara runtuh ketika berhenti dikritik.

Maka, jika hari ini kritik dianggap musuh, esok yang tersisa hanyalah keheningan palsu. Dan dalam keheningan itu, kepercayaan publik pelan-pelan mati. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PERTUMBUHAN TINGGI, DOMPET MENIPIS: PARADOKS STABILITAS EKONOMI INDONESIA DI ERA TEKANAN GLOBAL

26 Februari 2026 - 11:54 WIB

ANTARA TARAWIH DAN TROLI BELANJA: WAJAH GANDA RAMADHAN KITA

26 Februari 2026 - 11:35 WIB

KELAS MENENGAH DI UJUNG TANDUK, SIAPA SEBENARNYA YANG MENIKMATI PERTUMBUHAN?

13 Februari 2026 - 11:57 WIB

EPSTEIN, PARASIT EKONOMI, DAN WAJAH KAPITALISME YANG KEHILANGAN ETIKA

12 Februari 2026 - 11:21 WIB

Jalan Harapan yang Kembali Terhubung

8 Februari 2026 - 11:20 WIB

Trending di Opini