Menu

Mode Gelap
Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta Begini Cara Warga Aceh Timur Akhirnya Mendapat Air Minum Layak Pascabanjir Menguak Keadaan di Kuala Simpang: Dua Bulan Pascabanjir, Lumpur dan Sampah Masih Mengurung Permukiman Warga Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen

Opini

Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin

badge-check


					Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin Perbesar

Oleh: Trinugroho

Ketika kritik diposisikan sebagai ancaman dan wartawan diperlakukan layaknya lawan, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan sekadar komunikasi publik. Yang ambruk perlahan adalah fondasi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Dalam negara demokrasi, kritik bukanlah bentuk pembangkangan. Ia adalah mekanisme koreksi. Wartawan pun bukan oposisi kekuasaan, melainkan jembatan antara fakta dan publik. Namun ketika kritik disambut dengan kecurigaan, pembungkaman, atau pelabelan negatif, negara tengah mengirim sinyal berbahaya: kekuasaan mulai alergi terhadap kebenaran.

Komunikasi publik yang sehat menuntut keberanian untuk mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan. Pemerintah yang kuat justru lahir dari kemampuannya mengelola kritik, bukan meniadakannya. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun dari narasi sepihak, melainkan dari transparansi dan akuntabilitas.

Sejarah mencatat, setiap rezim yang memusuhi pers selalu memulai keruntuhannya dari titik yang sama: menutup telinga, mengeras dalam kekuasaan, dan menjauh dari rakyat. Ketika wartawan diperlakukan sebagai ancaman, masyarakat pun wajar bertanya—apa yang sebenarnya sedang ditutupi?

Negara tidak runtuh karena kritik. Negara runtuh ketika berhenti dikritik.

Maka, jika hari ini kritik dianggap musuh, esok yang tersisa hanyalah keheningan palsu. Dan dalam keheningan itu, kepercayaan publik pelan-pelan mati. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sedikit Kegembiraan di Tengah Kecemasan

20 Januari 2026 - 07:54 WIB

INALUM Sambut Kejatisu dengan Sikap Terbuka, IWO Batu Bara: Inilah Standar BUMN Sehat”

14 November 2025 - 17:27 WIB

Teguh untuk meneguhkan PWI

10 Agustus 2025 - 18:22 WIB

Trending di Opini