Menu

Mode Gelap
Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta

News

Kadipaten Pakualaman Gencar Sosialisasikan Sejarah dan Nilai nilai Budaya Kepakualaman di Kabupaten Sleman

badge-check


					Kadipaten Pakualaman Gencar Sosialisasikan Sejarah dan Nilai nilai Budaya Kepakualaman di Kabupaten Sleman Perbesar

Sleman, harianpaparazzi.com — Guna lebih memperkenalkan sejarah, Kadipaten Paku Alam mengelar Sosialisasi Budaya dan Nilai – Nilai Kepakualaman di kompleks perkantoran Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Senin (7/10/2024).

Sosialisasi yang dikemas dalam Dialog Budaya ini menghadirkan nara sumber budayawan Kadipaten Pakualaman, KRMT Projokusumo dan dr H KPH Kusumoparastho.

Putra Dalem KGPAA Paku Alam X, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro mengungkapkan, amanat dari tujuan Undang undang nomer 13 tahun 2012 Tentang Keistimewaan Yogyakarta yang mencantumkan 5 (lima) aspek termuat pada Pasal 7 ayat (2).

“Aspek tersebut yakni tata cara pengisian jabatan, kedudukan tugas dan kewenangan Gubernur dan Wakil Gubernur, kelembagaan Pemerintahan Daerah DIY, kebudayaan serta pertahan dan tata ruang” terang pria yang akrab disapa mas Suryo ini.

Tujuan dari Keistimewaan, sambungnya, ada lima yang diharapkan dapat tercapai. Tujuan tersebut yakni mewujudkan pemerintahan yang demokratis, mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman masyarakat.

“Tujuan lainnya yakni mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin ke-bhinneka-tunggal-ika- an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Menciptakan pemerintahan yang baik serta kelembagaan peran dan tanggungjawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa” terangnya.

Lebih jauh mas Suryo menjelaskan, dialog budaya awalnya merupakan salah satu kegiatan internal di lingkungan Kadipaten Pakualaman yang sejak lama dilaksanakan pada setiap Malam Sabtu Kliwon.

Dimana kegiatan ini merupakan upaya merawat tradisi pemikiran bagi para Sentana dan Abdi Dalem di Kadipaten Pakualaman.

“Semula dialog budaya mengambil tempat di Bangsal Parangkarso yang memiliki sejarah sebagai tempat tinggal Presiden Soekarno semasa pemerintahan RI berada di Yogyakarta tahun 1946.

Semasa Adipati Paku Alam VIII bertahta. Kemudian karena ternyata minat masyarakat cukup antusias dalam dialog ini, kemudian pelaksanaan digelar di Kagungan Dalem Kepatihan dengan peserta yang lebih beragam,. Selain menjangkau tokoh masyarakat di DIY kepesertaan dialog budaya juga melibatkan unsur pemuda, pemuda pelopor para duta pemuda dan berbagai kalangan profesi, budayawan seniman” ujarnya.

Ditambahkannya, dialog budaya kali ini merupakan kegiatan special, karena Kami dari kadipaten Pakualaman datang untuk lebih mengenal masyarakat di Kabupaten Sleman agar lebih terjalin kedekatan antara Kadipaten Pakualaman dengan masyarakat luas di Kabupaten Sleman.

“Harapan kami dari dialog budaya ini nantinya dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang sejarah berdirinya Kadipaten Pakualaman langsung dari para Narasumber yaitu KPH Kusomoparastho dan KRMT Projokusumo, kedua beliau ini adalah budayawan di kadipaten Pakualaman” tandasnya.

Sementara itu Pj Bupati Sleman, Kusno Wibowo berharap melalui kegiatan dialog budaya dapat memberikan nilai positif bagi peningkatan ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah Kadipaten Pakualaman serta perkembangan seni budaya di Pakualaman.

“Adanya dialog ini masyarakat Sleman dapat mengerti perjalanan sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dua pusat kebudayaan dan peradaban Yogyakarta, yakni Kraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman. Di mana ke duanya berkontribusi sangat besar atas berdirinya NKRI” bebernya.

Menurutnya melalui dialog budaya ini masyarakat Sleman bisa mendapatkan informasi langsung dari Kadipaten Pakualaman.

“Saat ini kita dalam situasi tradisi dan pembauran, di mana kebudayaan tidak boleh lepas dari akarnya dan harus berjalan seiring praktek kemajuan jaman. Kraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai pilar keistimewaan memiliki tanggungjawab dan amanat menjaga Undang – Undang Keistimewaan” tandas Kusno., Kadipaten Paku Alam mengelar Sosialisasi Budaya dan Nilai – Nilai Kepakualaman di kompleks perkantoran Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Senin (7/10/2024).

Sosialisasi yang dikemas dalam Dialog Budaya ini menghadirkan nara sumber budayawan Kadipaten Pakualaman, KRMT Projokusumo dan dr H KPH Kusumoparastho.

Putra Dalem KGPAA Paku Alam X, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro mengungkapkan, amanat dari tujuan Undang undang nomer 13 tahun 2012 Tentang Keistimewaan Yogyakarta yang mencantumkan 5 (lima) aspek termuat pada Pasal 7 ayat (2).

“Aspek tersebut yakni tata cara pengisian jabatan, kedudukan tugas dan kewenangan Gubernur dan Wakil Gubernur, kelembagaan Pemerintahan Daerah DIY, kebudayaan serta pertahan dan tata ruang” terang pria yang akrab disapa mas Suryo ini.

Tujuan dari Keistimewaan, sambungnya, ada lima yang diharapkan dapat tercapai. Tujuan tersebut yakni mewujudkan pemerintahan yang demokratis, mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman masyarakat.

“Tujuan lainnya yakni mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin ke-bhinneka-tunggal-ika- an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Menciptakan pemerintahan yang baik serta kelembagaan peran dan tanggungjawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa” terangnya.

Lebih jauh mas Suryo menjelaskan, dialog budaya awalnya merupakan salah satu kegiatan internal di lingkungan Kadipaten Pakualaman yang sejak lama dilaksanakan pada setiap Malam Sabtu Kliwon.

Dimana kegiatan ini merupakan upaya merawat tradisi pemikiran bagi para Sentana dan Abdi Dalem di Kadipaten Pakualaman.

“Semula dialog budaya mengambil tempat di Bangsal Parangkarso yang memiliki sejarah sebagai tempat tinggal Presiden Soekarno semasa pemerintahan RI berada di Yogyakarta tahun 1946.

Semasa Adipati Paku Alam VIII bertahta. Kemudian karena ternyata minat masyarakat cukup antusias dalam dialog ini, kemudian pelaksanaan digelar di Kagungan Dalem Kepatihan dengan peserta yang lebih beragam,. Selain menjangkau tokoh masyarakat di DIY kepesertaan dialog budaya juga melibatkan unsur pemuda, pemuda pelopor para duta pemuda dan berbagai kalangan profesi, budayawan seniman” ujarnya.

Ditambahkannya, dialog budaya kali ini merupakan kegiatan special, karena Kami dari kadipaten Pakualaman datang untuk lebih mengenal masyarakat di Kabupaten Sleman agar lebih terjalin kedekatan antara Kadipaten Pakualaman dengan masyarakat luas di Kabupaten Sleman.

“Harapan kami dari dialog budaya ini nantinya dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang sejarah berdirinya Kadipaten Pakualaman langsung dari para Narasumber yaitu KPH Kusomoparastho dan KRMT Projokusumo, kedua beliau ini adalah budayawan di kadipaten Pakualaman” tandasnya.

Sementara itu Pj Bupati Sleman, Kusno Wibowo berharap melalui kegiatan dialog budaya dapat memberikan nilai positif bagi peningkatan ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah Kadipaten Pakualaman serta perkembangan seni budaya di Pakualaman.

“Adanya dialog ini masyarakat Sleman dapat mengerti perjalanan sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dua pusat kebudayaan dan peradaban Yogyakarta, yakni Kraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman. Di mana ke duanya berkontribusi sangat besar atas berdirinya NKRI” bebernya.

Menurutnya melalui dialog budaya ini masyarakat Sleman bisa mendapatkan informasi langsung dari Kadipaten Pakualaman.

“Saat ini kita dalam situasi tradisi dan pembauran, di mana kebudayaan tidak boleh lepas dari akarnya dan harus berjalan seiring praktek kemajuan jaman. Kraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai pilar keistimewaan memiliki tanggungjawab dan amanat menjaga Undang – Undang Keistimewaan” tandas Kusno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sinergi Polisi dan Masyarakat Berbuah Hasil, Pengedar Sabu 2,66 Gram Diciduk di Batu Bara

16 Februari 2026 - 10:42 WIB

Kayu Balok Melintas Mulus, Hukum Terlihat Tertatih di Jalur Medan–Banda Aceh

8 Februari 2026 - 11:17 WIB

Pendidikan Aceh Tamiang Menjerit, Sekolah Rusak Parah PascabanjirInilah Potret Dunia Pendidikan yang Masih Tertimbun Lumpur

6 Februari 2026 - 23:17 WIB

Polri Turun Tangan Perkuat Ketahanan Pangan, Rakor Bahas Pengawalan Produksi dan Distribusi

6 Februari 2026 - 21:57 WIB

Belum Genap Dua Pekan Menjabat, Kompol Fery Kusnadi Ungkap 30 Kasus Narkoba di Deli Serdang

4 Februari 2026 - 09:33 WIB

Trending di News