Menu

Mode Gelap
Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta Begini Cara Warga Aceh Timur Akhirnya Mendapat Air Minum Layak Pascabanjir Menguak Keadaan di Kuala Simpang: Dua Bulan Pascabanjir, Lumpur dan Sampah Masih Mengurung Permukiman Warga Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat

Politik

KIP Lhokseumawe Diduga Terlibat Persekongkolan dalam Anggaran Debat, Transparansi Dipertanyakan

badge-check


					KIP Lhokseumawe Diduga Terlibat Persekongkolan dalam Anggaran Debat, Transparansi Dipertanyakan Perbesar

Lhokseumawe, harianpaparazzi.com – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Lhokseumawe mendapat sorotan tajam dari masyarakat terkait dugaan kurangnya transparansi dalam pengelolaan anggaran debat publik. Sebagian besar masyarakat mulai mempertanyakan pengelolaan dana yang dinilai tertutup dan menimbulkan kecurigaan adanya dugaan kolusi antara KIP Lhokseumawe dengan pihak event organizer (EO) yang terlibat.

KIP Lhokseumawe diketahui telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk debat publik. Namun, hingga kini publik hanya diberi informasi mengenai beberapa aspek dasar saja, seperti biaya sewa gedung, tanpa rincian lebih lanjut. 

Menurut Ketua KIP Lhokseumawe, Abdul Hakim, anggaran debat pertama sudah mencapai 420 juta rupiah, termasuk sekitar 400 juta yang dialokasikan untuk Event Organizer (EO), Salindino.

Namun, dalam rincian yang minim ini, hanya 10 juta rupiah yang disebutkan sebagai biaya sewa gedung IAIN. Untuk rincian lainya, Hakim menolak membocorkan ke publik.

“KIP tidak memiliki kewajiban untuk membuka rincian anggaran kepada publik,” ujar Hakim kepada harianpaparazzi.com, Senin (11/11/2024).

Sikap tertutup ini semakin memicu spekulasi bahwa anggaran yang besar tidak dikelola secara transparan, dan kemungkinan terdapat penggunaan dana yang tidak efisien atau bahkan tidak tepat sasaran.

Sementara itu, pihak event organizer yang ditunjuk, Salindino, ternyata mendapat keluhan dari masyarakat terkait layanan teknis selama debat berlangsung. Banyak yang mengeluhkan masalah teknis seperti suara yang putus-putus dan alat-alat yang tidak bekerja dengan baik. 

Publik pun mempertanyakan, dengan dana yang cukup besar, mengapa kualitas layanan dari EO justru terkesan minim? Hal ini memunculkan dugaan bahwa anggaran yang diberikan tidak digunakan untuk memberikan layanan terbaik atau bahwa pihak EO tidak memenuhi ekspektasi sesuai dengan dana yang diterima.

Indikasi Persekongkolan dengan EO

Dalam penunjukan EO untuk debat, tidak ada aturan khusus yang membatasi pilihan KIP Lhokseumawe, sehingga mereka memiliki keleluasaan besar dalam memilih EO. Minimnya transparansi mengenai mekanisme penunjukan EO menimbulkan dugaan adanya hubungan dekat antara KIP Lhokeumawe dan EO tersebut. 

Pernyataan dari KIP Lhokseumawe  bahwa dana langsung disalurkan ke rekening EO tanpa rincian kepada publik semakin memperkuat kecurigaan bahwa proses ini mungkin melibatkan persekongkolan. Isu ini menciptakan kekecewaan besar di tengah masyarakat. 

Harapannya, debat publik yang diadakan dengan anggaran besar seharusnya dapat memberikan layanan berkualitas tinggi sebagai wujud penghormatan terhadap proses demokrasi. Namun, kenyataannya justru menampilkan masalah teknis yang mengganggu, seolah-olah anggaran yang besar itu tidak dimanfaatkan secara profesional.

Desakan untuk Audit dan Pengawasan

Publik kini menyerukan agar dilakukan audit independen terhadap penggunaan anggaran KIP Lhokseumawe, termasuk alokasi dana kepada EO. Langkah ini dinilai penting untuk membuka dugaan-dugaan yang beredar dan memastikan bahwa dana yang dialokasikan untuk pilkada digunakan secara transparan dan akuntabel. 

Beberapa pengamat juga menyarankan agar inspektorat dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) turun tangan mengawasi seluruh proses perencanaan dan pelaksanaan anggaran.

Kasus ini menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas yang seharusnya menjadi nilai utama dalam pelaksanaan pilkada justru diragukan. 

Jika dugaan persekongkolan ini benar, ini akan menjadi tamparan bagi proses demokrasi yang bersih. 

Masyarakat berharap agar ada pengawasan ketat dari lembaga pengawas dan penegak hukum untuk memastikan pilkada berjalan tanpa intervensi atau persekongkolan yang merugikan rakyat.

Diketahui, dana secara keseluruhan untuk Pilkada Kota Lhokseumawe yang tercantum dalam MPH 2024 sebesar 22 miliar rupiah telah disusun dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai dengan kebutuhan. (Haikal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taruna Akpol Peserta Latsitardanus XLVI Bantu Operasional Dapur Lapangan di POSCO Pengungsian Aceh Tamiang

29 Januari 2026 - 18:35 WIB

PWI Lhokseumawe Gelar Konferensi II, Momentum Regenerasi dan Penguatan Peran Pers

29 Januari 2026 - 11:53 WIB

Negara Masuk Hutan Aceh: Satgas PKH Ambil Alih Kawasan Pasca Izin Lima Perusahaan Dicabut

28 Januari 2026 - 22:56 WIB

Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu

28 Januari 2026 - 22:54 WIB

Bawa 50,7 Kilogram Ganja, Dua Pria di Aceh Tenggara Ditangkap Polisi 

28 Januari 2026 - 07:50 WIB

Trending di Aceh