Oleh: Trinugroho
Ketika kritik diposisikan sebagai ancaman dan wartawan diperlakukan layaknya lawan, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan sekadar komunikasi publik. Yang ambruk perlahan adalah fondasi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Dalam negara demokrasi, kritik bukanlah bentuk pembangkangan. Ia adalah mekanisme koreksi. Wartawan pun bukan oposisi kekuasaan, melainkan jembatan antara fakta dan publik. Namun ketika kritik disambut dengan kecurigaan, pembungkaman, atau pelabelan negatif, negara tengah mengirim sinyal berbahaya: kekuasaan mulai alergi terhadap kebenaran.
Komunikasi publik yang sehat menuntut keberanian untuk mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan. Pemerintah yang kuat justru lahir dari kemampuannya mengelola kritik, bukan meniadakannya. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun dari narasi sepihak, melainkan dari transparansi dan akuntabilitas.
Sejarah mencatat, setiap rezim yang memusuhi pers selalu memulai keruntuhannya dari titik yang sama: menutup telinga, mengeras dalam kekuasaan, dan menjauh dari rakyat. Ketika wartawan diperlakukan sebagai ancaman, masyarakat pun wajar bertanya—apa yang sebenarnya sedang ditutupi?
Negara tidak runtuh karena kritik. Negara runtuh ketika berhenti dikritik.
Maka, jika hari ini kritik dianggap musuh, esok yang tersisa hanyalah keheningan palsu. Dan dalam keheningan itu, kepercayaan publik pelan-pelan mati. (*)







