IDI, Harianpaparazzi.com — Selama berminggu-minggu pascabanjir, warga Dusun Karang Kuda, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, hidup dengan satu kecemasan yang sama: air minum. Untuk seteguk air layak konsumsi, mereka harus menempuh jarak hingga belasan kilometer, di tengah rumah berlumpur dan infrastruktur yang belum pulih sepenuhnya.
Di dusun yang masih menyimpan jejak banjir itu, air sungai dan sumur tak lagi aman diminum. Anak-anak, ibu rumah tangga, hingga lansia bertahan dengan air kemasan yang dibeli seadanya. Ketika persediaan habis, pilihan pun semakin sempit.
Kondisi itulah yang kemudian menjadi perhatian Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Muhammad Qodari, saat mengunjungi wilayah terdampak banjir di Aceh Timur, Rabu (14/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Qodari menyerahkan bantuan water purifier, mesin penyuling air siap minum yang langsung menjawab kebutuhan paling mendasar warga: air bersih.
Mesin tersebut mampu menyaring air dari sumber yang tersedia di sekitar permukiman, lalu mengubahnya menjadi air layak konsumsi dengan kapasitas hingga 3.000 liter per hari. Di tengah keterbatasan pasokan air PDAM dan rusaknya sarana air bersih, alat ini menjadi harapan baru bagi warga.
“Untuk kebutuhan air minum, warga di sini harus mengambil dari jarak sekitar 12 kilometer. Dengan adanya water purifier ini, insyaallah kebutuhan air minum bisa segera terpenuhi,” kata Qodari di hadapan warga Dusun Karang Kuda.
Menurut Qodari, bantuan ini tidak datang begitu saja. Kantor Staf Presiden menyiapkan water purifier berdasarkan masukan langsung dari lapangan, termasuk saran Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basa dan penjelasan kepala dusun mengenai kondisi riil warga pascabanjir.
“Kami mendengar langsung apa yang dibutuhkan warga. Ternyata benar, air minum adalah persoalan utama di sini,” ujarnya.
Qodari bersama Kapolda Aceh dan Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Alfarlaky bahkan mencoba langsung air hasil penyulingan tersebut. Air tersebut telah melalui pemeriksaan medis dan kesehatan, dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
“Airnya sudah diperiksa dari aspek kesehatan, dan hasilnya baik. Mudah-mudahan bantuan ini bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh warga,” kata Qodari.
Bagi warga Dusun Karang Kuda, mesin penyuling air ini bukan sekadar alat, melainkan solusi atas persoalan yang selama ini membebani kehidupan sehari-hari. Kepala Dusun Karang Kuda, Murtaza, mengaku selama ini warga terpaksa membeli air minum dari luar kampung dengan jarak tempuh sekitar 12 kilometer.
“Ini sangat bermanfaat. Selama ini kami harus beli air dari jauh. Sekarang warga tidak perlu lagi khawatir soal air minum,” ujar Murtaza.
Di sisi lain, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Alfarlaky menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat terhadap warganya. Menurutnya, bantuan water purifier melengkapi berbagai upaya pemulihan yang sedang dilakukan, termasuk dukungan pompa apung dan dapur umum dari Polri.
“Bantuan ini sangat membantu percepatan pemulihan, khususnya bagi warga yang terdampak cukup parah,” kata Alfarlaky.
Tak hanya berhenti pada bantuan air bersih, kunjungan tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai masa depan warga pascabencana. Qodari dan Bupati Aceh Timur membicarakan rencana pembangunan hunian sementara dan hunian tetap, termasuk persoalan lahan yang hingga kini masih menjadi kendala.
Masalah-masalah itu, menurut Qodari, akan dibawa ke rapat besar Satgas Penanganan Bencana Sumatra yang dijadwalkan berlangsung Kamis (15/1/2026), dan disampaikan langsung kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku pimpinan satgas.
Di Dusun Karang Kuda, air yang mengalir dari mesin penyuling itu kini menjadi simbol kecil pemulihan. Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya hilang dan trauma banjir yang masih membekas, setidaknya satu kebutuhan dasar warga mulai terjawab: air minum yang layak, dekat, dan aman. (Firdaus)







