Banda Aceh, Harianpaparazzi.com – Dua puluh tahun silam, Aceh menjadi sorotan dunia. Konflik bersenjata yang berkepanjangan akhirnya dihentikan melalui Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005. Salah satu saksi sejarah yang turut memastikan kesepakatan itu berjalan adalah Uni Eropa, lewat misi Aceh Monitoring Mission (AMM).
Selasa (9/9/2025), di Kantor Gubernur Aceh, kenangan itu kembali mengemuka. Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, SE, menerima kunjungan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, H.E. Denis Chaibi, didampingi Minister Counsellor Antoine Ripoll. Agenda ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan refleksi 20 tahun perdamaian Aceh yang hingga kini tetap terjaga.
Perdamaian Aceh, Inspirasi Dunia
Dalam sambutannya, Wagub Fadhlullah menegaskan bahwa komitmen Aceh menjaga perdamaian tidak pernah luntur. “Selama 20 tahun terakhir, tidak ada lagi konflik yang terjadi. Perdamaian ini bahkan bisa menjadi contoh bagi dunia,” ujarnya.
Namun di balik capaian itu, ia mengingatkan masih ada sejumlah poin MoU Helsinki yang belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam regulasi nasional. Kritik halus dilontarkan kepada pemerintah pusat yang dinilai belum konsisten. Aceh berharap Uni Eropa dapat menyuarakan hal ini di Jakarta.
Ekonomi dan Investasi: Babak Baru Kerja Sama
Selain politik perdamaian, Fadhlullah membuka ruang dialog baru: investasi. Ia mengajak Uni Eropa melihat potensi besar Aceh, mulai dari minyak dan gas, emas, kopi, hingga nilam. Dengan stabilitas keamanan yang terjaga, Aceh dinilai layak menjadi destinasi investasi internasional.
Bagi Aceh, keterlibatan Uni Eropa tidak lagi semata-mata pada isu politik damai, melainkan juga pada pembangunan ekonomi. Inilah babak baru hubungan Aceh–Eropa: dari misi pengawasan perdamaian menuju misi pembangunan.
Respons Uni Eropa: Bangga, tapi Tetap Waspada
Dubes Denis Chaibi menegaskan, Uni Eropa bangga atas capaian Aceh. “Dua dekade perdamaian adalah prestasi besar yang perlu terus dijaga,” katanya. Ia berjanji melaporkan hal positif ini ke Brussels.
Namun, Minister Counsellor Antoine Ripoll memberi catatan lain. Bagi Uni Eropa, masa depan Aceh ada pada generasi mudanya. Pendidikan, peningkatan kapasitas, dan keterampilan SDM menjadi kunci agar Aceh tidak hanya damai, tetapi juga sejahtera.
Perspektif Diplomasi
Secara geopolitik, kehadiran Uni Eropa di Aceh bukanlah hal biasa. Aceh memiliki sejarah panjang keterhubungan dengan dunia, sejak era perdagangan rempah hingga konflik modern. Kini, Uni Eropa datang dengan wajah berbeda: bukan lagi sebagai mediator, melainkan sebagai mitra strategis pembangunan.
Harapan ke Depan
Momentum 20 tahun perdamaian menjadi pengingat sekaligus tantangan. Bagi Aceh, perdamaian bukan akhir, melainkan awal perjalanan panjang menuju kesejahteraan. Dukungan Uni Eropa diharapkan bukan hanya berhenti pada simbol, tetapi berwujud dalam regulasi yang ditegakkan, investasi yang nyata, dan pendidikan yang memberdayakan. Pertemuan ditutup dengan penyerahan cinderamata. Simbol kecil dari sebuah persahabatan yang pernah lahir di tengah konflik, kini berkembang menjadi kerja sama untuk masa depan.







