ACEH UTARA – Sejumlah obat dilaporkan mengalami kekosongan di RSU Cut Meutia Aceh Utara. Obat yang disebut tidak tersedia antara lain jenis obat yang dibutuhkan pasien penyakit jantung, tuberkulosis (TBC), serta sejumlah obat bagi pasien dengan penyakit kronis lainnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian pasien membutuhkan obat secara rutin dan berkelanjutan sesuai resep serta anjuran dokter. Kekosongan obat tanpa kepastian kapan stok kembali tersedia dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan pengobatan pasien.
Pasien penyakit jantung dan TBC, khususnya, membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan obat agar terapi yang sedang dijalani dapat berlangsung sesuai ketentuan medis.
Antre Sejak Pagi, Berakhir Kecewa di Apotek
Bagi masyarakat yang datang berobat, proses pelayanan di RSU Cut Meutia tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Sejak sekitar pukul 06.00 WIB, masyarakat dilaporkan sudah mulai berdatangan dan mengantre untuk mendapatkan pelayanan di berbagai poli yang tersedia di rumah sakit tersebut.
Setelah menjalani pemeriksaan dokter, antrean belum selesai. Pasien masih harus menunggu untuk mendapatkan obat di apotek rumah sakit sebagai bagian akhir dari rangkaian pelayanan.
Namun, sejumlah pasien disebut harus pulang dengan rasa kecewa setelah mengetahui obat yang mereka butuhkan tidak tersedia.
Sebagian pasien bahkan datang dari wilayah yang cukup jauh, di antaranya dari Kecamatan Sawang dan Langkahan. Setelah menempuh perjalanan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka harus kembali tanpa memperoleh obat yang diresepkan dan tanpa kepastian kapan obat tersebut akan tersedia kembali.
Situasi tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi pasien dan keluarga, terutama bagi mereka yang harus menjalani pengobatan secara rutin.
Pasien Menanti Kepastian
Persoalan ini diharapkan segera mendapat perhatian dari manajemen RSU Cut Meutia Aceh Utara. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui penyebab kekosongan, baik dari sisi perencanaan kebutuhan, pengadaan, ketersediaan stok di instalasi farmasi maupun distribusi obat kepada pasien.
Koordinasi antara manajemen rumah sakit, Instalasi Farmasi, dokter, penyedia obat dan pihak terkait juga dinilai penting agar persoalan serupa tidak berlangsung berlarut-larut.
Masyarakat berharap rumah sakit dapat memberikan kepastian mengenai kondisi ketersediaan obat, terutama bagi pasien yang menjalani pengobatan rutin dan berkelanjutan.
Jika terdapat kendala dalam pengadaan atau distribusi, informasi mengenai penyebab serta langkah penyelesaiannya diharapkan dapat disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
Sebab, pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya ditentukan oleh keberadaan tenaga medis dan fasilitas rumah sakit, tetapi juga oleh tersedianya obat yang dibutuhkan pasien.
Di Mana Tanggung Jawab BPJS?
Kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai peran BPJS Kesehatan dalam memastikan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memperoleh pelayanan sesuai ketentuan.
Apabila pasien telah mengikuti prosedur pelayanan dan mendapatkan resep dari dokter, masyarakat tentu berharap tersedia mekanisme yang jelas ketika obat yang diresepkan ternyata tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pertanyaannya, sejauh mana BPJS Kesehatan melakukan pengawasan atau koordinasi ketika terjadi kekosongan obat yang dibutuhkan peserta JKN?
Apakah pasien harus mencari obat sendiri, membeli obat secara mandiri, atau mendapatkan alternatif lain ketika obat yang diresepkan tidak tersedia?
Pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar pasien tidak berada dalam posisi yang serba tidak pasti.
Kekosongan obat juga tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan, terlebih bagi pasien penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan secara teratur dan berkelanjutan.
Di sisi lain, muncul informasi bahwa nilai klaim BPJS Kesehatan RSU Cut Meutia disebut termasuk yang tertinggi dibandingkan rumah sakit lainnya di wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Namun, informasi mengenai nilai maupun posisi klaim tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak RSU Cut Meutia dan BPJS Kesehatan untuk memastikan kebenaran serta perbandingannya.
Besarnya pembiayaan pelayanan kesehatan tentunya diharapkan berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan pasien, termasuk ketersediaan obat yang diresepkan oleh dokter.
Jangan Sampai Pasien Kehilangan Pilihan
Masyarakat yang datang berobat tentu berharap seluruh rangkaian pelayanan dapat diselesaikan dengan baik, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan dokter hingga memperoleh obat.
Ketika obat tidak tersedia, pasien bukan hanya kehilangan waktu dan biaya perjalanan, tetapi juga menghadapi ketidakpastian mengenai kelanjutan pengobatannya.
Karena itu, masyarakat berharap pihak RSU Cut Meutia bersama BPJS Kesehatan dan instansi terkait segera mencari solusi terhadap persoalan tersebut.
Jangan sampai pasien yang telah datang sejak pagi, mengantre di berbagai poli dan menempuh perjalanan jauh justru harus pulang tanpa obat yang dibutuhkan.
Bagi pasien jantung, TBC dan penderita penyakit kronis lainnya, ketersediaan obat bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan bagian penting dari keberlanjutan pengobatan.
Masyarakat kini menunggu kepastian: kapan obat kembali tersedia dan bagaimana mekanisme pelayanan bagi pasien ketika obat yang diresepkan mengalami kekosongan.
(Tri Nugroho Panggabean)






